TEKNIK PENGAMBILAN KEPUTUSAN TERKAIT DENGAN RANTAI PASOK (SUPPLY CHAIN) DAN RANTAI NILAI (VALUE CHAIN) SERTA STRATEGI MEMASUKI PASAR GLOBAL DAN BEREKSPANSI
TEKNIK PENGAMBILAN KEPUTUSAN TERKAIT DENGAN RANTAI PASOK (SUPPLY CHAIN) DAN RANTAI NILAI (VALUE CHAIN)
A. TANTANGAN MENENTUKAN PEMASOK
Tantangan dalam menentukan pemasok adalah untuk mewujudkan nilai yang akan memenuhi kebutuhan pelanggan. Menurut I Nyoman Pujawan (2005), terdapat tantangan yang harus dihadapi dalam mengelola rantai pemasok, yaitu:
1.
Kompleksitas
struktur rantai pemasok
a. Melibatkan banyak
pihak dengan kepentingan yang berbeda-beda
b. Perbedaan biaya, zona waktu dan budaya antar perusahaan
2.
Ketidakpastian
a. Ketidakpastian
permintaan
b. Ketidakpastian
pasokan: lead time pengiriman, harga dan kualitas bahan baku
c. Ketidakpastian
internal: kerusakan mesin, kinerja mesin yang tidak sempurna, ketidakpastian
kualitas produk
B. SISTEM NILAI, RANTAI NILAI, DAN PERAN STRATEGIK
PEMASARAN GLOBAL
Rantai nilai (value chain) merupakan kelompok organisasi secara vertikal lurus yang dapat menambah nilai pada barang atau jasa dalam pergerakan dari supplier dasar ke produk jadi yang disalurkan pada pelanggan dan organisasi pemakai akhir. Istilah value chain dipakai untuk memfokuskan pada proses, aktivitas, organisasi dan struktur yang dikombinasikan untuk menciptakan nilai pada pelanggan sebagai produk yang bergerak dari nilai aslinya kepada pemakai akhir. Perusahaan menerapkan value chain ini bertujuan untuk mengidentifikasi aktivitas-aktivitas dalam sistem produksi sehingga dapat diketahui kelemahan dan kekurangan aktivitas yang terdapat dalam perusahaan.
Rantai nilai mengungkapkan tiga macam peranan untuk pemasaran dalam strategi persaingan global, yaitu:
1. Peranan yang berkaitan dengan konfigurasi pemasaran. Walaupun banyak kegiatan pemasaran harus dilakukan dalam setiap negara,value dapat didapatkan dengan memusatkan beberapa kegiatan pemasaran pada suatu lokasi saja. Servis, contohnya, harus tersebar disetiap negara. Akan tetapi, pelatihan sebagian dipusatkan pada suatu lokasi.
2. Peranan kedua dari pemasaran adalah koordinasi kegiatan pemasaran di seluruh negara untuk meningkatkan pengetahuan perusahaan. Integrasi ini dapat memiliki berbagai bentuk, termasuk transfer pengalaman relevan melintasi batas-batas negara dalam bidang-bidang seperti manajemen pelangganan global, dan penggunaan pendekatan atau metode serupauntuk riset pemasaran, pemosisian produk, atau kegiatan pemasaran yang lain.
3. Peranan
ketiga dari pemasaran adalah memanfaatkan peluang untuk keunggulan di bagian
hulu dalam rantai nilai. Salah satu
contoh kasusnya ialah pengembangan kamera Canon model AE-1. Riset menyediakan
informasi mengenai kebutuhan pasar yang membuat Canon mampu mengembangkan
produk Global. Unsur hulu dari rantai nilai menarik manfaat dari informasi ini
dan membuat Canon mampu mengembangkan produk yang seragam bentuk fisiknya yang
memerlukan suku cadang lebih sedikit, berkurangnya rekayasa, persediaan yang
lebih rendah, dan masa produksi yang lebih lama dari pada yang dapat diperoleh
perusahaan bila perusahaan mengembangkan produk yang disesuaikan dengan kondisi
unik dalam masing-masing pasar nasional.
C. KRITERIA KEPUTUSAN, DAN ALTERNATIF STRATEGI PEMASOK
Identifikasi kriteria dalam pemilihan pemasok ini, berdasarkan dimensi kualitas menurut teori Garvin yang dapat digunakan untuk menganalisis karakteristik mutu produk dan menurut teori Kotler untuk dimensi kualitas mutu pelayanan. Penjelasan untuk masing-masing kriteria yang digunakan adalah sebagai berikut (Ngatawi & Setyaningsih, 2011).
1.
Pengiriman
barang, adalah proses penyampaian barang
dari produsen ke konsumen.
2. Pelayanan, adalah usaha yang dilakukan pemasok dalam melayani
kebutuhan konsumen.
3.
Produk, adalah hasil yang berwujud barang yang ditawarkan
oleh pemasok.
4. Kualitas
pemasok, adalah kemampuan pemasok
dalam menjaga reputasi dan konsistensi dalam bekerja sama dengan para konsumen.
Hal ini bertujuan untuk mempermudah kelancaran produksi.
5. Biaya, adalah uang yang dikeluarkan konsumen untuk memperoleh produk dari pemasok.
Terdapat lima strategi yang dapat dipilih perusahaan
untuk melakukan pembelian kepada supplier yaitu adalah sebagai berikut:
1. Banyak
Pemasok (Many Supplier)
Strategi ini memainkan antara pemasok yang satu dengan pemasok yang lainnya dan membebankan pemasok untuk memenuhi permintaan pembeli. Para pemasok saling bersaing secara agresif. Meskipun banyak pendekatan negosiasi yang digunakan dalam strategi ini, tetapi hubungan jangka panjang bukan menjadi tujuan. Dalam pendekatan ini, tanggung jawab dibebankan pada pemasok untuk mempertahankan teknologi, keahlian, kemampuan ramalan, biaya, kualitas dan pengiriman.
2. Sedikit
Pemasok (Few Supplier)
Dalam strategi ini, perusahaan mengadakan hubungan jangka panjang dengan para pemasok yang komit. Karena dengan cara ini, pemasok cenderung lebih memahami sasaran-sasaran luas dari perusahaan dan konsumen akhir. Penggunaan hanya beberapa pemasok dapat menciptakan nilai denganmemungkinkan pemasok mempunyai skala ekonomis dan kurva belajar yang menghasilkan biaya transaksi dan biaya produksi yang lebih rendah. Dengan sedikit pemasok maka biaya mengganti partner besar, sehingga pemasok dan pembeli menghadapi resiko akan menjadi tawanan yang lainnya. Kinerja pemasok yang buruk merupakan salah satu resiko yang dihadapi pembeli sehingga pembeli harus memperhatikan rahasia-rahasia dagang pemasok yang berbisnis di luar bisnis bersama.
3. Vertical
Integration
Artinya
pengembangan kemampuan memproduksi barang atau jasa yang sebelumnya dibeli,
atau dengan benar-benar membeli pemasok atau distributor. Integrasi vertikal
dapat berupa:
· Integrasi ke
belakang (Backward Integration)
berarti penguasaan kepada sumber daya, misalnya perusahaan mobil mengakuisisi pabrik
baja.
· Integrasi ke depan (Forward Integration) berarti penguasaan kepada konsumennya, misalnya perusahaan mobil mengakuisisi dealer yang semula sebagai distributornya.
4. Kairetsu
Network
Kebanyakan
perusahaan manufaktur mengambil jalan tengah antara membeli dari sedikit
pemasok dan integrasi vertikal dengan cara misalnya mendukung secara finansial
pemasok melalui kepemilikan atau pinjaman. Pemasok kemudian menjadi bagian dari
koalisi perusahaan yang lebih dikenal dengan kairetsu. Keanggotaannya dalam
hubungan jangka panjang oleh sebab itu diharapkan dapat berfungsi sebagai
mitra, menularkan keahlian teknis dan kualitas produksi yang stabil kepada
perusahaan manufaktur. Para anggota kairetsu dapat beroperasi sebagai
subkontraktor rantai dari pemasok yang lebih kecil.
5. Perusahaan
Maya (Virtual Company)
Perusahan maya
mengandalkan berbagai hubungan pemasok untuk memberikan pelayanan pada saat
diperlukan. Perusahaan maya mempunyai batasan organisasi yang tidak tetap dan
bergerak sehingga memungkinkan terciptanya perusahaan yang unik agar dapat
memenuhi permintaan pasar yang cenderung berubah. Hubungan yang terbentuk dapat
memberikan pelayanan jasa diantaranya meliputi pembayaran gaji, pengangkatan
karyawan, disain produk atau distribusinya. Hubungan bisa bersifat jangka
pendek maupun jangka panjang, mitra sejati atau kolaborasi, pemasok atau
subkontraktor. Apapun bentuk hubungannya diharapkan akan menghasilkan kinerja
kelas dunia yang ramping. Keuntungan yang bisa diperoleh diantaranya adalah
keahlian manajemen yang terspesialisasi, investasi modal yang renadh,
fleksibilitas dan kecepatan. Hasil yang diharapkan adalah efisiensi.
STRATEGI MEMASUKI
PASAR GLOBAL DAN BEREKSPANSI
A. PASAR GLOBAL
Pasar global adalah pemasaran berskala seluas dunia Internasional yang terbuka bagi seluruh pelaku usaha. Peluang pasar selalu terbuka bagi semua pelaku usaha, tak terkecuali di pasar ekspor. Yang penting mesti kreatif dan mau berinovasi dalam mengembangkan pasar. Pelaku bisnis yang tangguh tentu tak mudah ditenggelamkan oleh setiap perubahan tantangan bisnis meski tantangan yang datang semakin berat. Pasar global mengalami perkembangan yang pesat belakangan ini karena beberapa faktor, antara lain:
1. Adanya beberapa
negara industri yang mampu menghasilkan produk berkualitas dengan harga murah,
misalnya China dan Taiwan.
2. Semakin banyak
orang yang melakukan perjalanan antar negara yang secara langsung menjadi
konsumen global.
3. Semakin banyaknya transportasi antar negara yang mempermudah distribusi produk. Perdagangan dunia semakin meningkat seiring dengan meningkatnya permintaan pasar dunia.
Pelaku bisnis skala internasional yang tangguh tentu tak mudah ditenggelamkan oleh setiap perubahan tantangan bisnis meski tantangan yang datang semakin berat. Bagi para pebisnis sejati, kesulitan justru menjadi cambuk yang melecut semangat untuk memecahkannya sehingga usaha dapat semakin berkembang dan maju. Karakter semacam itu tampaknya juga melekat pada sederet pengelola perusahaan di Indonesia yang juga terlihat dari kinerja perusahaan yang dikelola yang hasilnya memang super.
Segmentasi pasar adalah membagi sebuah pasar ke dalam kelompok-kelompok pembeli yang berbeda yang mungkin menghendaki bauran produk atau pemasar yang terpisah. Segmentasi pasar global terdiri dari:
1. Pemasaran
Massal (Mass Marketing)
Penjual memproduksi, mendistribusi-kan, dan mempromosikan secara massal sebuah produk kepada seluruh pembeli. Pemasar tersebut menciptakan pasar potensial terbesar, biaya paling rendah, harga lebih rendah atau marjin yang lebih tinggi.
2. Pemasaran
Segmen
Perusahaan menyadari bahwa pembeli berbeda dalam kebutuhan, persepsi, dan perilaku pembelian. Perusahaan mengisolasi segmen yang lebar yang membentuk suatu pasar dan mengadaptasi apa yang ditawarkannya agar lebih mendekati kebutuhan satu atau beberapa segmen.
3. Pemasaran
Ceruk
Pemasaran ini berfokus pada subgrup di dalam segmen-segmen diatas. Suatu ceruk adalah suatu grup yang didefinisikan dengan lebih sempit, biasanya diidentifikasi dengan memilah suatu segmen menjadi beberapa subsegmen.
4. Pemasaran
Mikro
Praktik
penyesuaian produk dan program pemasar agak cocok dengan citarasa individu atau
lokasi tertentu.
B. EKSPOR
Ekspor ialah sebuah proses atau kegiatan transportasi
komoditas barang dan produk dari sebuah negara satu menuju negara lain. Proses
kegiatan ekspor kadang kala dilakukan oleh perusahaan dengan taraf skala bisnis
yang masih terbilang kecil hingga skala menengah ke atas yang di gunakan
sebagai sebuah strategi paling utama untuk dapat bersaing dikancah
internasional maupun lokal. Strategi perusahaan melakukan ekspor dilakukan
karena memiliki risiko yang terbilang lebih rendah dan kecil serta menggunakan
modal yang tidak terlalu banyak bahkan bisa dibilang sangat kecil selain itu
ekspor lebih gampang dan mudah jika dibandingkan dengan langkah strategi yang
lainnya. Adapun beberapa strategi lainnya yang memiliki dana yang tidak sedikit
dan jauh lebih beresiko dibanding ekspor yaitu franchise serta strategi
akuisisi.
C. LISENSI
Lisensi adalah suatu bentuk pemberian izin untuk
memanfaatkan suatu HAKI (Hak atas Kekayaan Intelektual), yang dimana dapat
diberikan oleh pemberi lisensi kepada penerima lisensi agar penerima lisensi
dapat melakukan suatu bentuk kegiatan usaha, baik itu dalam bentuk teknologi
atau pengetahuan yang dapat dipergunakan untuk memproduksi, menghasilkan,
menjual maupun memasarkan barang (berwujud) tertentu, juga yang akan
dipergunakan untuk melaksanakan kegiatan jasa tertentu, dengan menggunakan hak
atas kekayaan intelektual yang dilisensikan tersebut. Untuk keperluan tersebut
pengerima lisensi diwajibkan untuk memberikan kontra prestasi dalam bentuk
pembayaran royalti yang dikenal juga dengan license fee. Pihak yang
menjual atau memberikan lisensi biasa disebut dengan Licensor (pemberi lisensi)
dan pihak yang menerima lisensi disebut dengan Licensee (penerima lisensi).
D. USAHA PATUNGAN
Usaha patungan (joint venture) adalah suatu
usaha yang dimiliki secara patungan oleh dua atau lebih perusahaan yang berdiri
sendiri dan tetap melakukan fungsinya secara terpisah, akan tetapi menyatukan
sumber daya mereka dalam satu lini aktivitas khusus. Perusahaan melakukan usaha
patungan untuk beragam tujuan. Penggabungan sumber daya dari dua perusahaan
dapat mempermudah pengembangan suatu operasi yang berskala lebih besar,
sehingga dengan usaha patungan memungkinkan untuk memasuki skala ekonomis (economies
of scale) dan meningkatkan daya penetrasi terhadap pasar. Sebuah usaha
patungan sering kali menjadi suatu jalan khusus yang efektif dalam memanfaatkan
sumber daya pelengkap dan keahlian. Misalnya perusahaan yang satu dapat
menyumbangkan teknologi dan produk-produk baru, sementara perusahaan yang lain
memberikan keahlian pemasaran dan saluran distribusi. Dalam konteks
internasional, usaha patungan dengan mitra lokal sering digunakan oleh perusahaan-perusahaan
multinasional (multinational companies) sebagai suatu cara untuk dapat
memasuki pasar luar negeri yang belum dikenal dengan baik. Usaha patungan pada
umumnya merupakan suatu jalan yang tidak terlalu mahal untuk memperluas
kepentingan usaha sebuah perusahaan bila dibandingkan dengan melaksanakan penggabungan
secara penuh atau pengambilalihan. Masalah utama usaha patungan adalah terpusat
pada keharusan untuk mempertahankan perjanjian di antara dua kongsi usaha
(terutama jika pengaturannya adalah 50:50) tentang bagaimana usaha tersebut
harus dipimpin dan dikembangkan.
E. STRATEGI PERLUASAN PASAR
Terdapat 3 strategi dimana perusahaan ingin memperluas produk atau pasarnya, yaitu:
1. Strategi
penetrasi pasar, dimana hal ini
dilakukan dengan cara membanjiri pasar dengan produk baru yang belum ada dipasaran,
sehingga orang atau pelanggan akan membeli produk tersebut.
2. Strategi
pengembangan pasar, ini dilakukan
bilamana perusahaan mulai mencari saluran baru atau wilayah baru untuk pasar
produknya yang belum tersentuh dari produk tersebut.
3. Strategi pengembangan
produk, strategi ini dilakukan
bilamana perusahaan telah melakukan dua strategi sebelumnya dimana produk
sebelumnya dilakukan diversifikasi atau penemuan turunan dari produk tersebut.
F. PENENTUAN POSISI PASAR
Posisi pasar adalah suatu kegiatan untuk menentukan posisi produk tersebut pada benak konsumen. Di dalam istilah marketing, posisi pasar ini juga sering disebut dengan istilah positioning.
Dengan kata lain, bahwa posisi pasar (positioning) adalah tindakan merancang produk dan bauran pemasarannya agar tercipta kesan tertentu pada ingatan atau benak konsumen. Hal ini juga berarti bahwa untuk menggerakkan produk menuju posisi tertentu pada benak konsumen, maka diperlukan alat positioning merek dan advertising.
Menurut Hermawan Kertajaya, dalam bukunya yang berjudul “Memenangkan Persaingan Dengan Segitiga Positioning-Difernsiasi-Brand”, menyebutkan empat kriteria untuk menentukan positioning yaitu sebagai berikut:
1. Customer (Pelanggan)
Didasarkan atas kajian pelanggan (costumer), positioning harus dipersepsikan secara positif oleh para pelanggan dan menjadi alasan dalam pembelian mereka.
2. Company (Perusahaan)
Didasarkan atas kajian pada kapabilitas dan kekuatan internal perusahaan (company), maka positioning harus mencerminkan kekuatan dan keunggulan kompetitif suatu perusahaan. Dalam hal ini, jangan sampai terjadi bahwa perusahaan merumuskan positioning-nya namun ternyata tidak mampu melakukan dan memenuhi janjinya tersebut.
3. Competitor
(Pesaing)
Didasarkan pada banyaknya pesaing baru yang muncul harus dapat menjadi semangat perusahaan untuk lebih maju lagi, baik dalam hal peningkatan kualitas maupun teknologi yang digunakan.
4. Change (Perubahan)
Didasarkan pada kajian atas
perubahan yang terjadi dalam lingkungan bisnis, positioning harus
berkelanjutan dan selalu relevan dengan berbagai perubahan dalam lingkungan
bisnis apakah itu perubahan persaingan, perilaku pelanggan ataupun perubahan sosial
budaya dan sebagainya.
Sumber :
- http://virellp.blogspot.com/2019/06/tantangan-dalam-menentukan-pemasok.html
- http://megaleonitaa.blogspot.com/2018/12/manajemen-pemasaran-global_28.html
- https://www.pengadaanbarang.co.id/2020/11/analisis-value-chain.html
- https://id.wikipedia.org/wiki/Pemasaran_global
- https://kejuruan.porosilmu.com/2015/10/memahami-pengertian-posisi-pasar-dan.html
Komentar
Posting Komentar