PENGERTIAN BUDAYA ORGANISASI DAN PERUSAHAAN, HUBUNGAN BUDAYA DAN ETIKA, KENDALA DALAM MEWUJUDKAN KINERJA BISNIS ETIS
A. KARAKTERISTIK
BUDAYA ORGANISASI
Secara umum pengertian budaya organisasi yaitu suatu
karakteristik yang dijunjung tinggi oleh organisasi dan menjadi contoh
organisasi untuk membedakan antara satu organisasi dengan organisasi yang lain.
Atau budaya organisasi juga disimpulkan sebagai nilai-nilai dan norma perilaku
yang diterima serta dipahami secara bersama-sama oleh anggota organisasi
sebagai dasar dalam ketentuan perilaku yang ada di dalam organisasi tersebut.
Budaya organisasi adalah sebuah sistem makna bersama
yang dianut oleh para anggota yang membedakan suatu organisasi dari
organisasi-organisasi lainnya. Sistem makna bersama ini adalah sekumpulan
karakteristik kunci yang dijunjung tinggi oleh organisasi.
Asal muasal budaya organisasi bersumber dari
pendirinya karena pendiri dari organisasi itu mempunyai pengaruh besar akan
budaya awal organisasi baik dalam hal kebiasaan atau ideologi. Misalnya misi
yang bisa ia paksakan pada seluruh anggota organsiasi. Dimana hal semacam ini
dilakukan langkah pertama yaitu dengan merekrut dan mempertahankan anggota yang
sepaham.
Kedua, melakukan indokrinasi dan mensosialisasikan
cara pikir dan berperilaku pada karyawan. Selanjutnya yang terakhir yaitu
pendiri bertindak sebagai model peran yang mendorong anggota untuk
mengidentifikasi diri, dan jika organisasi mengalami perkembangan maka
organisasi akan meraih kesuksesan, visi, serta pendiri akan dipandang sebagai
faktor penentu utama kesuksesan.
Menurut Sarpin, budaya organisasi adalah suatu sistem
nilai, kepercayaan dan kebiasaan dalam suatu organisasi yang saling
berinteraksi dengan struktur sistem formalnya untuk menghasilkan norma-norma
perilaku organisasi. Sedangkan menurut Schein, budaya organisasi adalah suatu
pola dari asumsi-asumsi dasar yang ditemukan, diciptakan atau dikembangkan oleh
suatu kelompok tertentu, dengan maksud agar organisasi belajar mengatasi dan
menanggulangi masalah-masalah yang timbul akibat adaptasi eksternal dan
integrasi internal yang sudah berjalan dengan cukup baik, sehingga perlu
diajarkan kepada anggota-anggota baru sebagai cara yang benar untuk memahami,
memikirkan dan merasakan berkanaan dengan masalah-masalah tersebut.
Robbins (2007), memberikan tujuh karakteristik budaya
sebagai berikut :
1. Inovasi dan
keberanian mengambil resiko yaitu sejauh mana karyawan diharapkan didorong
untuk bersikap inovatif dan berani mengambil resiko.
2. Perhatian terhadap
detail yaitu sejauh mana karyawan diharapkan menjalankan presisi, analisis, dan
perhatian pada hal-hal detail.
3. Berorientasi pada
hasil yaitu sejauh mana manajemen berfokus lebih pada hasil ketimbang teknik
atau proses yang digunakan untuk mencapai hasil tersebut.
4. Berorientasi
kepada manusia yaitu sejauh mana keputusan-keputusan manajemen mempertimbangkan
efek dari hasil tersebut atas orang yang ada di dalam organisasi.
5. Berorientasi pada
tim yaitu sejauh mana kegiatan-kegiatan kerja diorganisasi pada tim ketimbang
individu-individu.
6.
Agresivitas yaitu
sejauh mana orang bersikap agresif dan kompetitif ketimbang santai.
7. Stabilitas yaitu
sejauh mana kegiatan-kegiatan organisasi menekankan dipertahankannya status
quo dalam perbandingannya dengan pertumbuhan.
Sedangkan Snhneider dalam (Pearse dan Bear, 1998)
mengklasifikasikan budaya organisasi ke dalam empat tipe dasar, yaitu :
1. Control
Culture
Budaya impersonal
nyata yang memberikan perhatian pada kekonkretan pembuatan keputusan yang
melekat secara analitis, orientasi masalah dan preskriptif.
2. Collaborative
Culture
Berdasarkan pada
kenyataan individu terhadap pengambilan keputusan yang dilakukan secara people-driven,
organic dan informal. Interaksi dan keterlibatan menjadi elemen pokok.
3. Competence Culture
Budaya personal
yang dilandaskan pada kompetensi diri, yang memberikan perhatian pada potensi,
alternatif, pilihan-pilihan kreatif dan konsep-konsep teoretis. Orang orang
yang termasuk dalam tipe budaya ini memiliki standar untuk meraih sukses yang lebih
tinggi.
4. Cultivation
Culture
Budaya yang
berlandaskan pada kemungkinan seorang individu mampu memperoleh inspirasi.
B. FUNGSI BUDAYA
ORGANISASI
Budaya organisasi memiliki fungsi yang sangat penting.
Fungsi budaya organisasi adalah sebagai tapal batas tingkah laku individu yang
ada didalamnya. Fungsi budaya biasanya sulit dibedakan dengan fungsi budaya
kelompok atau budaya organisasi, karena budaya adalah gejala sosial.
Fungsi budaya organisasi menurut Siagian (1992)
mencatat lima fungsi utama budaya organisasi, yakni :
1. Sebagai penentu
batas-batas tingkah laku dalam arti memastikan apa yang boleh dan tidak boleh
dilakukan, apa yang dilihat baik atau tidak baik, memastikan yang benar dan
yang salah.
2. Menumbuhkan
perasaan jati diri dalam suatu organisasi dan para anggotanya.
3. Menumbuhkan
komitmen kepada kepentingan bersama diatas kepentingan pribadi atau kelompok
sendiri.
4.
Sebagai tali
pengikat untuk seluruh anggota organisasi.
5.
Sebagai alat
pengendali perilaku para anggota organisasi yang berkaitan.
C.
PEDOMAN
TINGKAH LAKU
Antara manusia dan kebudayan terjalin hubungan yang
sangat erat, sebagaimana yang diungkapkan oleh Dick Hartoko bahwa manusia
menjadi manusia merupakan kebudayaan. Hampir semua tindakan manusia itu
merupakan kebudayaan. Hanya tindakan yang sifatnya naluriah saja yang bukan
merupakan kebudayaan, tetapi tindakan demikian presentasenya sangat kecil.
Tindakan yang berupa kebudayaan tersebut dibiasakan dengan cara belajar.
Terdapat beberapa proses belajar kebudayaan yaitu proses internalisasi,
sosialisasi, dan enkulturasi.
Tingkah laku dapat dijelaskan melalui pendekatan,
salah satunya adalah pendekatan psikologi dimana tingkah laku dapat dijelaskan
dengan cara yang berbeda-beda, dalam psikologi sedikitnya ada lima cara
pendekatan, yaitu :
1. Pendekatan
Neurobiologis
Tingkah laku
manusai pada dasrnya dikendalikan oleh aktivitas otak dan sistem syaraf.
Pendekatan neurobiologis berupaya mengaitkan perilaku yang terlihat dengan
impuls listrik dan kimia yang terjadi didalam tubuh serta menentukan proses
neurobiologi yang mendasari perilaku dan proses mental.
2. Pendekatan
Perilaku
Pada dasarnya
tingkah laku adalah respon atau stimulus yang datang. Secara sederhana dapat
digambarkan dalam model S – R atau suatu kaitan Stimulus – Respon. Ini berarti
tingkah laku itu seperti reflek tanpa kerja mental sama sekali.
3. Pendekatan
Kognitif
Pendekatan ini
menekankan bahwa tingkah laku adalah proses mental, dimana individu (organisme)
aktif dalam menangkap, menilai, membandingkan, dan menanggapi stimulus sebelum
melakukan reaksi. Individu menerima stimulus lalu melakukan proses mental
sebelum memberikan reaksi yang datang.
4. Pendekatan
Psikoanalisa
Pendekatan
psikoanalisa dikembangkan oleh Sigmund Freud. Ia meyakini bahwa kehidupan
individu sebagian besar dikuasai oleh alam bawah sadar. Sehingga tingkah laku
banyak didasari oleh hal-hal yang tidak disadari, seperti keinginan, impuls,
atau dorongan. Keinginan atau dorongan yang ditekan akan tetap hidup dalam alam
bawah sadar dan sewaktu-waktu akan menuntut untuk dipuaskan.
5. Pendekatan
Fenomenologi
Pendekatan ini
lebih memperhatikan pada penagalam subyektif individu karena itu tingkah laku
sangat dipengaruhi oleh pandangan individu terhadap diri dan dunianya, konsep tentang
dirinya, harga dirinya dan segala hal yang menyangkut kesadaran atau
aktualisasi dirinya. Ini berarti melihat tingkah laku seseorang selalu
dikaitkan dengan fenomena tentang dirinya.
D.
APRESIASI
BUDAYA
Istilah apresiasi berasal dari bahasa inggris “appreciation”
yang berarti penghargaan, penilaian, pengertian. Bentuk itu berasal dari kata
kerja “it appreciates” yang berarti menghargai, menilai, mengerti dalam
bahasa indonesia menjadi mengapresiasi. Apresiasi budaya adalah kesanggupan
untuk menerima dan memberikan penghargaan, penilaian, pengertian terhadap
hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia.
Ada beberapa metode dalam mengapresiasi budaya, antara
lain :
1. Metode
Induktif
Apresiasi
dilakukan dengan cara menarik konsep/kebenaran/keindahan dari pranata yang
sifatnya khusus sampai yang bersifat umum.
2. Metode
Deduktif
Apresiasi
dilakukan dengan cara menarik konsep/kebenaran/keindahan dari pranata yang
sifatnya umum sampai yang bersifat khusus.
3. Metode Empati
Apresiator
mengamati seolah-olah larut pada perasaan, terbawa oleh obyek, sehingga dalam
komentar-komentarnya terdapat ibarat, metafora yang melebih-lebihkan.
4. Metode
Interaktif
Metode ini
dilakukan untuk mencari kesepakatan dengan melalui sarasehan budaya.
E. HUBUNGAN ETIKA
DAN BUDAYA
Hubungan antara etika dengan kebudayaan adalah meta-ethical
cultural relativism merupakan cara pandang secara filosofis yang yang
menyatkan bahwa tidak ada kebenaran moral yang absolut, kebenaran harus selalu
disesuaikan dengan budaya dimana kita menjalankan kehidupan sosial kita karena
setiap komunitas sosial mempunyai cara pandang yang berbeda-beda terhadap
kebenaran etika.
Etika erat kaitannya dengan moral. Etika atau moral
dapat digunakan okeh manusia sebagai wadah untuk mengevaluasi sifat dan
perangainya. Etika selalu berhubungan dengan budaya karena merupakan tafsiran
atau penilaian terhadap kebudayaan. Etika mempunyai nilai kebenaran yang harus
selalu disesuaikan dengan kebudayaan karena sifatnya tidak absolut dan mempunyai
standar moral yang berbeda-beda tergantung budaya yang berlaku dimana kita
tinggal dan kehidupan sosial apa yang kita jalani.
Baik atau buruknya suatu perbuatan itu tergantung
budaya yang berlaku. Prinsip moral sebaiknya disesuaikan dengan norma-norma yang
berlaku, sehingga suatu hal dikatakan baik apabila sesuai dengan budaya yang
berlaku di lingkungan sosial tersebut. Sebagai contoh orang Eskimo beranggapan
bahwa tindakan infantisid (membunuh anak) adalah tindakan yang biasa, sedangkan
menurut budaya Amerika dan negara lainnya tindakan ini merupakan suatu tindakan
amoral.
Suatu premis yang disebut dengan “Dependency Thesis”
mengatakan “all moral principles derive their validity from cultural
acceptance”. Penyesuaian terhadap kebudayaan ini sebenarnya tidak
sepenuhnya harus dipertahankan dan dibutuhkan suatu pengembangan premis yang
lebih kokoh.
F.
PENGARUH
ETIKA TERHADAP BUDAYA
Etika seseorang dan etika bisnis adalah satu kasatuan
yang terintegrasi sehingga tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya,
keduanya saling melengkapi dalam mempengaruhi perilaku antar individu maupun
kelompok, yang kemudian menjadi perilaku organisasi yang akan berpengaruh
terhadap budaya perusahaan. Jika etika menjadi nilai dan keyakinan yang
terinternalisasi dalam budaya perusahaan, maka akan berpotensi menjadi dasar
kekuatan perusahaan dan akhirnya akan berpotensi menjadi stimulus dalam
peningkatan kinerja karyawan.
Terdapat pengaruh yang signifikan antara etika
seseorang dari tingkatan manajer terhadap tingkah laku etis dalam pengambilan
keputusan. Kemampuan seorang profesional untuk dapat mengerti dan pekau
terhadap adanya masalah etika dalam profesinya sangat dipengaruhi oleh
lingkungan, sosial budaya, dan masyarakat dimana dia berada. Budaya perusahaan
memberikan sumbangan yang sangat berartiu terhadap perilaku etis. Perusahaan
akan menjadi lebih baik jika mereka membudayakan etika dalam lingkungan
perusahaannya.
Budaya perusahaan pada dasarnya mewakili norma-norma
perilaku yang diikuti oleh para anggota organisasi, termasuk mereka yang berada
dalam hirarki organisasi. Bagi oraganisasi yang masih didominasi oleh pendiri,
maka budayanya akan menajadi wahana untuk mengkomunikasikan harapan-harapan
pendiri kepada para pekerja lainnya. Demikian pula jika perusahaan dikelola
oleh seorang manajer senior otokratis yang menerapkan gaya kepemimpinan top
down. Disini budaya juga akan berperan untuk mengkomunikasikan
harapan-harapan manajer senior itu.
Isu dan kekuatan suatu budaya memengaruhi suasana etis
sebuah organisasi dan perilaku etis para anggotanya. Budaya sebuah organisasi
yang punya kemungkinan paling besar untuk membentuk standar dan etika tinggi
adalah budaya yang tinggi toleransinya terhdapa risiko tinggi, sedang, sampai
rendah dalam hal keagresifan, dan fokus pada sarana selain itu juga hasil.
Manajemen dapat melakukan bebarapa hal dalam menciptakan budaya yang lebih
etis, yaitu :
1. Model Peran
Yang Visible
Karyawan akan
melihat sikap dan perilaku manjemen puncak (Top Manajemen) sebagai
acuan/landasan standar untuk menentukan perilaku dan tindakan-tindakan yang
semestinya diambil.
2. Komunikasi
Harapan Etis
Ambiguitas etika
dapat diminimalisir dengan menciptakan dan mengkomunikasikan kode etik
organisasi.
3. Pelatihan
Etis
Pelatihan etis
digunakan memperkuat standar, tuntutan organisasi, menjelaskan praktik yang
diperbolehkan dan yang tidak, dan menangani dilema etika yang mungkin muncul.
G. KENDALA
MEWUJUDKAN KINERJA BISNIS
Pencapaian tujuan etika bisnis di Indonesia masih
berhadapan dengan beberapa masalah dan kendala. Keraf (1993) menyebut beberapa
kendala tersebut yaitu :
1) Standar moral
para pelaku bisnis pada umumnya masih lemah
Banyak di antara
pelaku bisnis yang lebih suka menempuh jalan pintas, bahkan menghalalkan segala
cara untuk memperoleh keuntungan dengan mengabaikan etika bisnis, seperti
memalsukan campuran, timbangan, ukuran, menjual barang yang kadaluwarsa, dan
memanipulasi laporan keuangan.
2) Banyak
perusahaan yang mengalami konflik kepentingan
Konflik
kepentingan ini muncul karena adanya ketidaksesuaian antara nilai pribadi yang
dianutnya atau antara peraturan yang berlaku dengan tujuan yang hendak
dicapainya, atau konflik antara nilai pribadi yang dianutnya dengan praktik
bisnis yang dilakukan oleh sebagian besar perusahaan lainnya, atau antara
kepentingan perusahaan dengan kepentingan masyarakat. Orang-orang yang kurang
teguh standar moralnya bisa jadi akan gagal karena mereka mengejar tujuan
dengan mengabaikan peraturan.
3) Situasi
politik dan ekonomi yang belum stabil
Hal ini diperkeruh
oleh banyaknya sandiwara politik yang dimainkan oleh para elit politik, yang di
satu sisi membingungkan masyarakat luas dan di sisi lainnya memberi kesempatan
bagi pihak yang mencari dukungan elit politik guna keberhasilan usaha
bisnisnya. Situasi ekonomi yang buruk tidak jarang menimbulkan spekulasi untuk
memanfaatkan peluang guna memperoleh keuntungan tanpa menghiraukan akibatnya.
4) Lemahnya
penegakan hukum
Banyak orang yang
sudah divonis bersalah di pengadilan bisa bebas berkeliaran dan tetap memangku
jabatannya di pemerintahan. Kondisi ini mempersulit upaya untuk memotivasi
pelaku bisnis menegakkan norma-norma etika.
Belum ada
organisasi profesi bisnis dan manajemen untuk menegakkan kode etik bisnis dan
manajemen. Organisasi seperti KADIN beserta asosiasi perusahaan di bawahnya
belum secara khusus menangani penyusunan dan penegakkan kode etik bisnis dan
manajemen.
Sedangkan terdapat beberapa kendala mewujudkan kinerja
bisnis etis, yaitu :
1) Mentalitas para
pelaku bisnis, terutama top management yang secara moral rendah, sehingga
berdampak pada seluruh kinerja bisnis. Perilaku perusahaan yang etis biasanya
banyak bergantung pada kinerja top management, karena kepatuhan pada
aturan itu berjenjang dari mulai atas ke tingkat bawah.
2) Faktor budaya
masyarakat yang cenderung memandang pekerjaan bisnis sebagai profesi yang penuh
dengan tipu muslihat dan keserakahan serta bekerja mencari untung. Bisnis
merupakan pekerjaan yang kotor. Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa
masyarakat kita memiliki persepsi yang keliru tentang profesi bisnis.
3) Faktor sistem
politik dan sistem kekuasaan yang diterapkan oleh penguasan sehingga
menciptakan sistem ekonomi yang jauh dari nilai-nilai moral. Hal ini dapat
terlihat dalam bentuk KKN.
H. CONTOH KASUS
CEO STARBUCKS LANGGAR ETIKA DAN BUDAYA, WAJAR DIBOIKOT
Jumat 30 Jun 2017 20:27 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- CEO Starbucks, Howard Mark
Schultz terang-terangan mendukung dan mengkampanyekan kesetaraan kaum Lesbian,
Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) dan pernikahan sejenis. Hal tersebut
membuat beberapa pihak di Indonesia mengusulkan untuk melakukan boikot karena
ideologi dan pemahaman bisnis Starbucks bertentangan dengan ideologi bangsa
Indonesia.
Peneliti Ekonomi Syariah School of Islamic Economics
(STEI SEBI) Aziz Setiawan menyatakan, usulan boikot terhadap satu brand atau
kelompok dagang tertentu dinilai sah saja. Jika etika bisnis brand tersebut
tidak sejalan dengan etika bangsa dan brand tersebut tidak menghormati budaya
lokal masyarakat yang ada di sekitarnya.
Begitupun Starbucks. Karena pada dasarnya prinsipnya
LGBT juga sudah bertentangan dengan UU perkawinan Indonesia. "Saya kira
itu sudah melanggar etika, nilai dan budaya. Wajar jika masyarakat bereaksi
akan boikot," ungkap Aziz saat dihubungi Republika.co.id, Jumat (30/6).
Aziz mengungkapkan, konsumen berhak mendapatkan
barang, produk, yang selain bisa dikonsumsi oleh mereka, juga dapat memberikan
dampak positif pada lingkungan sosial yang baik. Karenanya Aziz mengimbau, kini
sudah saatnya konsumen di Indonesia bisa lebih cerdas dalam mengonsumsi satu
produk.
"Apalagi seorang muslim. Dampak sosial itu harus
menjadi satu perhatian tersendiri. Nilai keberkahan itu sangat penting,"
jelas Aziz.
Sebelumnya diberitakan, CEO Starbucks Howard Mark
Schultz ketika pertemuan dengan para pemilik saham Starbucks Schultz secara
tegas mempersilakan para pemegang saham yang tidak setuju dengan pernikahan
sejenis untuk hengkang dari Starbucks.
Jaringan kopi Starbucks Indonesia juga memastikan
tetap sejalan dengan pihak manajemen Pusat Starbucks di Amerika Serikat yang
memberi dukungan terhadap LGBT. Hal tersebut disampaikan Marketing
Communications dan CSR Manager, PT Sari Coffee Indonesia, selaku pemegang
lisensi Starbucks Indonesia Yuti Resani pada Republika beberapa waktu yang
lalu. Dia mengatakan pihaknya tetap menghargai keragaman dan kesetaraan dan
berkomitmen sejalan dengan kebijakan manajemen Starbucks.
Sumber :
- Robbins. 2007. Perilaku Organisasi. Jakarta: Salemba Empat.
- https://shifanurulsafitri.wordpress.com/2017/03/31/pengertian-budaya-organisasi-dan-perusahaan-hubungan-budaya-dan-etika-kendala-dalam-mewujudkan-kinerja-bisnis-etis/
- https://www.republika.co.id/berita/ekonomi/makro/17/06/30/osd42c330-ceo-starbucks-langgar-etika-dan-budaya-wajar-diboikot
File PPT :
Komentar
Posting Komentar